Rabu, 22 Februari 2012

Kedudukan Bimbingan dan Konseling di Sekolah


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Manusia dituntut untuk mampu memperkembangkan dan menyesuaikan diri terhadap masyarakat, oleh karena itu manusia telah dianugerahi berbagai potensi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Potensi yang dimiliki manusia tersebut dapat berkenaan dengan keindahan dan ketinggian derajat kemanusiaannyamaupun berkenan dengan keempat dimensi kemanusiaan itu, yang memungkinkan untuk pemenuhan tuntutan masyarakat yang ada. Tuntutan seperti yang telah disebutkan tadi pada dasarnya ada pada berbagai ruang lingkup baik tingkat keluarga, lingkungan kerja, masyarakat maupun dunia pendidikan dalam hal ini yaitu lingkungan sekolah.
Pada ruang lingkup sekolah, siswa adalah subjek yang berusaha memenuhi tuntutan dalam kehidupan mereka.untuk mencapai pemenuhan itu siswa juga tidak selalu berjalan tanpa masalah. Tak dapat dipungkiri bahwa setiap siswa memiliki permasalahan di sekolah, yang membedakan hanyalah intensitas dan cara mereka menyikapi masalah yang mereka hadapi. Permasalahan yang dialami para siswa di sekolah sering kali tidak dapat dihindari, meski dengan pengajaran yang baik sekalipun. Hal ini juga bisa disebabkan oleh umber-sumber permasalahan siswa yang banyak berasal dari luar sekolah.
Dewasa ini, praktik nyatanya atau relita yang terjadi adalah pelayanan bimbingan dan konseling yang belum maksimal atau berjalan sesuai dengan semestinya atau ketentuan yang ada. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman lembaga pelayanan bimbingan dan konseling tersebut mengenai kedudukannya di sekolah yang dapat dikatakan vital.
Oleh karena itu kita sebagai calon tenaga pendidik atau guru haruslah mengerti dan paham mengenai pelayanan bimbingan dan konseling di lingkup sekolah. Kita tidak hanya memberikan materi pembelajaran tetapi kita juga harus memberikan pelayanan bimbingan dan konseling tersebut agar nantinya tujuan dari siswa untuk mendapatkan kemandirian dapat terpenuhi.

1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang ada, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1.2.1        Bagaimana hubungan antara Bimbingan dan Konseling dengan pendidikan di sekolah?
1.2.2        Apa saja ruang lingkup pelaksanaan proses pendidikan di sekolah?
1.2.3        Bagaimana kedudukan dan peran Bimbingan dan Konseling di sekolah?
1.2.4        Bagaimana tanggung jawab konselor sekolah?

1.3  Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini yang sesuai dengan rumusan masalah yang tersaji antara lain:
1.3.1        Untuk mengetahui hubungan antara Bimbingan dan Konseling dengan pendidikan di sekolah.
1.3.2        Untuk mengetahui ruang lingkup pelaksanaan proses pendidikan di sekolah.
1.3.3        Untuk mengetahui kedudukan dan peran Bimbingan dan Konseling di sekolah.
1.3.4        Untuk mengetahui bagaimana tanggung jawab konselor di sekolah.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hubungan Bimbingan dan Konseling dengan Pendidikan di Sekolah
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen dalam keseluruhan sistem pendidikan khususnya di sekolah; guru sebagai salah satu pendukung unsur pelaksana pendidikan yang mempunyai tanggung jawab sebagai pendukung pelaksana layanan bimbingan pendidikan di sekolah, dituntut untuk memiliki wawasan yang memadai terhadap konsep-konsep dasar bimbingan dan konseling di sekolah.
Bimbingan konseling sendiri adalah salah satu unsur yang sangat penting, yang merupakan salah satu unsur yang harus tersedia di dalam sebuah lembaga pendidikan, yakni sekolah. Dalam kenyataannya memang Bimbingan Konseling yang diharapkan diimplikasikan dengan baik di sekolah-sekolah tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Tanggung jawab sekolah ialah membantu para siswa, baik sebagai pribadi maupun sebagai calon anggota masyarakat, dengan mendidik dan menyiapkan siswa agar berhasil menyesuaikan diri di masyarakat, berkompetensi, mandiri, dan mampu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya. Inti dari tujuan pendidikan itu sendiri adalah perkembangan yang terjadi pada kepribadian peserta didik baik secara akademik maupun kehidupan sosialnya secara optimal serta perkembangan peserta didik sebagai seorang individu. Sehingga implikasi peranan Bimbingan Konseling di sekolah-sekolah itu sendiri adalah untuk membantu berhasilnya program pendidikan pada umumnya, membantu keberlangsungan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di sekolah-sekolah.

Oleh karena itu adanya Bimbingan Konseling di sekolah-sekolah sangat penting untuk peningkatan mutu pendidikan, khususnya di Indonesia. Selain itu untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu tidak cukup hanya dengan interaksi dan transfer ilmu dari guru pada siswa, materi-materi pelajaran, teori-teori, dan berbagai aspek kognitif lainnya. Mewujudkan pendidikan yang bermutu juga dibutuhkan serta harus didukung oleh profesionalitas para tenaga pendidik, tenaga administratif juga termasuk di dalamnya tenaga-tenaga bantu lain yang mendukung terlaksananya penyelenggaraan pendidikan. Serta sebagai tambahan yang tentunya juga sangat penting pula dalam elemen pendidikan yaitu, system manajemen tenaga pendidikan serta pengembangan kemampuan peserta didik untuk menolong dirinya sendiri dalam memilih dan megambil keputusan untuk pencapaian cita-cita dan harapan yang dimilikinya.

Dalam hal ini juga dapat dijelaskan bahwa setidaknya terdapat tiga komponen yang menunjang pelaksanaan pendidikan, yaitu : program yang baik, yang berarti bahwa program ataupun hal-hal yang direncanakan untuk keberlangsungan pelaksanaan pendidikan bagi baik siswa itu sendiri, maupun bagi pendidikan itu sendiri, haruslah memiliki tujuan dan diupayakan pencapaiannya dengan sebaik mungkin.  Kedua, administrasi dan supervisi yang lancar, yang memungkikan untuk memperlancar pula kegiatan belajar mengajar di sebuah sekolah, carut-marut administrasi juga akan mempengaruhi proses pelaksanaan pendidikan yang diharapkan bias dilaksanakan seoptimal mungkin. Terakhir, pelayanan bimbingan yang terarah, sangat ditekankan sekali adanya layanan bimbingan bagi para siswa yang terarah dan secara teratur. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat lebih bisa mengarahkan dirinya serta berbagai potensi yang ada dalam dirinya menjadi sehingga menjadi berkembang, seperti harapan yang sekaligus menjadi tujuan pendidikan.


2.2 Ruang Lingkup Pelaksanaan Proses Pendidikan di Sekolah
Sebagai pendidikan formal, pelaksanaan proses pendidikan di sekolah sekurang-kurangnya meliputi tiga ruang lingkup, antara lain:
1.        Bidang Kurikulum dan Pengajaran
       Bidang ini merupakan penyampaian dan pengembangan pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan kemampuan berkomunikasi para peserta didik.
2.        Bidang Administrasi dan Supervisi
       Ini merupakan kumpulan beberapa fungsi berkenaan tentang tanggung jawab dan kebikjasanaan.
3.        Bidang Bimbingan dan Konseling
       Bidang ini adalah fungsi dan kegiatan yang mengacu tentang pelayanan kesiswaan.
Bidang-bidang tersebut hendaknya secara lengkap ada apabila diinginkan agar pendidikan di sekolah dapat berjalan dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi secara optimal kebutuhan peserta didik dalam proses perkembangannya.
Gambar 1. Bagan Bidang Pelayanan di Sekolah
Dari ketiga bidang tersebut memiliki arah atau tujuan yang sama, Yaitu memberikan kemudahan pencapaian pengembangan yang optimal bagi peserta didik. Dalam tiga hal tersebut juga memiliki hubungan seperti bimbingan dan konseling bisa memberikan sumbangan bagi pengajaran.sebagai contoh proses suatu pembelajaran dapat berjalan dengan baik jika peserta didik terbebas dari masalah – masalah yang membuat pembelajarannya terhambat. Juga seperti antara bidang administrasi dan supervisi,bimbingan konseling dapat memberikan hal yang positif terhadap pengembangan suatu kurikulum.
            Kebutuhan akan layanan bimbingan dan konseling akan lebih efektif bila melihat keadaan yang terjadi pada sebuah sekolah, keadaan – keadaan tersebut meliputi:
1)   Terdapat suatu masalah dan masalah tersebut tidak dapat diselesaikan oleh guru dalam sekolah tersebut. Sedangkan guru lebih memfokuskan pada tugas dan kewajibannya sebagai pengajar saja.
2)   Terjadi suatu perselesihan antara guru dan peserta didik, dan dalam hal tersebut guru tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut.
3)   Ditemukan masalah – masalah pribadi siswa yang tidak dapat diselesaikan oleh guru dan  memerlukan seorang ahli khusus yang dapat menyelesaiakan masalah tersebut.

2.3  Peranan dan Kedudukan Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Bimbingan Konseling berada dalam posisi kunci dalam sebuah lembaga pendidikan, yaitu institusi sekolah sebagai pendukung maju atau mundurnya mutu pendidikaan. Peran bimbingan dan konseling dalam meningkatkan mutu pendidikan seperti yang telah disebutkan sebelumnya,  tidak hanya terbatas pada bimbingan yang bersifat akademik tetapi juga sosial, pribadi, intelektual dan pemberian nilai. Dengan bantuan bimbingan dan konseling maka pendidikan yang tercipta tidak hanya akan menciptakan manusia-manusia yang berorientasi akademik tinggi, namun dalam kepribaian dan hubungan sosialnya rendah serta tidak mempunyai sistem nilai yang mengontrol dirinya sehingga yang dihasilkan pendidikan hanyalah robot-robot intelektual, dan bukannya manusia seutuhnya. Dengan adanya bimbingan dan konseling maka integrasi dari seluruh potensi ini dapat dimunculkan sehinga keseluruhan aspek yang muncul, bukan hanya kognitif atau akademis saja tetapi juga seluruh komponen dirinya baik itu kepribadian, hubungan sosial serta memiliki niali-nilai yang dapat dijadikan pegangan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa peran bimbingan dan konseling didalam meningkatkan mutu pendidikan terletak pada bagaimana bimbingan dan konseling itu membangun manusia yang seutuhnya dari dberbagai aspek yang ada didadalam diri peserta didik. Karena seperti diawal telah dijelaskan bahwa pendidikan yang bermutu bukanlah pendidikan yang hanya mentransformasikan ilmu pengetahuan dan teknologi saja tetapi juga harus meningaktkan profesionalitas dan sistem manjemen, dimana kesemuanya itu tidak hanya menyangkut aspek akademik tetapi juga aspek pribadi, sosial, kematangan intelektual, dan sistem nilai. Peran BK dalam keempat aspek inilah yang menjadikan bimbingan konseling ikut berperan dalam peningkatan mutu pendidikan.
Bimbingan dan konseling di sekolah dapat mendamingi siswa dalam hal:
1)      Dalam perkembangan belajar di sekolah (perkembangan akademis).
2)      Mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka, sekarang maupun kelak.
3)      Menentukan cita-cita dan tujuan dalam hidupnya, serta menyusun rencana yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan itu.
4)      Mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajar di sekolah dan terlalu mempersukar hubungan dengan orang lain, atau yang mengaburkan cita-cita hidup.
BK dapat diposisikan secara tegas untuk mewujudkan prinsip keseimbangan. Lembaga ini menjadi tempat yang aman bagi setiap siswa untuk datang membuka diri tanpa waswas akan privacy-nya. Di sana menjadi tempat setiap persoalan diadukan, setiap problem dibantu untuk diuraikan, sekaligus setiap kebanggaan diri diteguhkan. Bahkan orangtua siswa dapat mengambil manfaat dari pelayanan bimbingan di sekolah, sejauh mereka dapat ditolong untuk lebih mengerti akan anak mereka.
2.4  Tanggung Jawab Konselor Sekolah
Tenaga initi (ahli)dalam bidang pelayanan bimbingan dan konseling ialah konselor. Karena tanggungjawabnya adalah di sekolah maka ia disebut konselor sekolah. Dalam menjalankan tugas dan mencapai tujuan pendidikan serta tujuan perkembangan peserta didik, ia tidak hanya berhubungan dengan peserta didik melainkan juga dengan berbagai pihak yang dapat secara bersama-sama menunjang semua pencapaian itu, antara lain:
1)      Tanggung jawab konselor terhadap siswa
Misalnya saja:
(1)   Memiliki kewajiban dan setia dalam memperlakukan siswa sebagai individu yang unik
(2)   Memperhatikan sepenuhnya segenap kebutuhan siswa dan mendorong pertumbuhan dan perkembangan yang optimal
(3)   Memberitahu tyjuan dan teknik layanan bimbingan konseling
(4)   Tidak mendesak siswa tentang nilai-nilai tertentu yang sebenarnya hanya anggapan baik dari konselor
(5)   Menjaga kerahasiaan
(6)   Memberi tahu pihak yang berwenang bila ada sesuatu yang dirasa berbahaya
(7)   Menyelenggarakan pengungkapan data secara tepat dan memberi tahu siswa tentang hasil kegiatan itu dengan cara sederhana dan mudah mengerti
(8)   Menyelenggarakan layanan bimbingan konseling secara tepat dan profesional
(9)   Melekukan referal khsus secara tepat
2)      Tanggung jawab kepada orang tua
(1)   Menghormati hak dan tanggungjawab orang tua terhadap siswa, dan membangun hubungan yang kuat dengan orang tua demi perkembangan siswa
(2)   Memberitahu orang tua tentang peranan konselor
(3)   Berbagi informasi dengan orang tua dalam menyampaikan cara yang sebaik-baiknya untuk perkembangan siswa
(4)   Menerapkan asas kerahasiaan dari informasi yang diperoleh dari orang tua
(5)   Menyampaikan informasi hanya kepada pihak-pihak yang berhak mengetahui tanpa merugiakan orang tua maupun siswa tersebut.
3)      Tanggung jawab kepada sejawat(sesama konselor, guru, dan personal sekolah lainnya)
(1)   Memperlakukan sejawat dengan penuh kehormatan, keadilan, keobjektifan, dan kesetiakawanan
(2)   Mengembangkan hubungan kerja agar pelaksanaan bimbingan konseling yang maksimum
(3)   Membangun kesadaran, tentang perlunya asas kerahasiaan, perbedaan antara data umum dan data pribadi, serta pentingnya konsultasi sejawat
(4)   Menyediakan informasi yang tepat, objektif, luas, dan berguna bagi sejawat untu membantu menangani masalah siswa
(5)   Membantu proses alih tangan kasus
4)      Tanggung jawab kepada sekolah dan masyarakat
(1)   Mendukung dan melindungi program sekolah terhadap penyimpangan-penyimpangan yang erugikan siswa
(2)   Membantu pihak-pihak yang bertanggungjawab apabila ada sesuatu yang dapat menghambat atau merusak misi sekolah, personal sekolah, ataupun kekayaan sekolah
(3)   Mengembangkan dan meningkatkan peranan dan fungsi bimbingan dan konseling untuk memenuhi kebutuhan segenap unsur-unsur sekolah dan masyarakat
(4)   Membantu pengembangan di sekolah
(5)   Bekarjasama dengan semua lambaga baik di sekolah maupaun di masyarakat demi pemenuhan kebutuhan siswa, sekolah, dan masyarakat tanpa pamrih
5)      Tanggung jawab kepada diri sendiri
(1)   Berfungsi secara profesional dalam batas-batas kemampuannya serta menerima tanggungjawab dan konsekuensi dari pelaksanaan fungsi tersebut
(2)   Menyadari kemungkinan pengaruh diri pribadi terhadap pelayanan yang diberikan oleh klien
(3)   Memonitor bagaimana diri sendiri berfungsi, dan bagaimana tingkat keefektifan pelayanan serta menahan segala sesuatu kemungkinan merugikan klien
(4)   Selalu mewujudkan prakarsa demi peningkatan dan pengembangan pelayanan profesional melalui dipertahankannya kemampuan profesional konselor, dan melalui penemuan-penemuan baru.
6)      Tanggung jawab kepada profesi.
(1)   Bertindak sedemikian rupa sehingga menguntungkan diri sendiri sebagai konselor dan profesi
(2)   Melakukan penelitian dan melaporkan penemuannya sehingga memperkaya khasanah dunia bimbingan dan konseling
(3)   Berpartisipsi secara aktif dalam kegiatan organisasi profesional bimbingan dan konseling baik ditempatnya sendiri, di daerah, maupun dalam lingkungan nasional
(4)   Menjalankan dan mempertahankan standar profesi bimbingan dan konseling serta kebijaksanaan yang berlaku berkenaan dengan pelayanan bimbingan dan konseling
(5)   Membedakan pernyataan yang bersifat pribadi dengan pernyataan yang menyangkut profesi bimbingan serta memperhatikan bagaimana implikasinya terhadap pelayanan bimbingan dan konseling


BAB III
PENUTUP
3.1  Simpulan
Yang dapat disimpulkan dari makalah ini adalah bimbingan dan konseling memiliki peran dan kedudukan yang penting terutama di sekolah. Sebagai pendidikan formal, pelaksanaan proses pendidikan di sekolah sekurang-kurangnya meliputi tiga ruang lingkup, yakni bidang instruksional(pengajaran) dan kurikulum, bidang administratif dan supervisi, serta bimbingan dan konseling.
Peran bimbingan dan konseling didalam meningkatkan mutu pendidikan terletak pada bagaimana bimbingan dan konseling itu membangun manusia yang seutuhnya dari di berbagai aspek yang ada didadalam diri peserta didik. Peran BK dalam aspek pribadi, sosial, kematangan intelektual, dan sistem nilailah yang menjadikan bimbingan konseling ikut berperan dalam peningkatan mutu pendidikan.
Lembaga bimbingan dan konseling dapat menjadi tempat setiap persoalan diadukan, setiap problem dibantu untuk diuraikan, sekaligus setiap kebanggaan diri diteguhkan.

3.2  Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan kepada pembaca makalah ini antara lain:
1)      pembaca membuka referensi lain yang mendukung isi makalah ini.
2)      pembaca membuka buku bimbingan dan konseling agar dapat lebih memahami isi.




DAFTAR PUSTAKA

Kartono, St. 2007. Pentingnya Bimbingan Konseling di Sekolah. http://tinaesti.wordpress.com /2007/06/24/pentingnya-bimbingan-konseling-oleh-st-kartono/. Diunduh pada 26 September 2011
Mugiarso, Heru. 2009. Bimbingan & Konseling. Semarang: UPT UNNES Press
Prayitno dan Erman Amti. 2004.Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta


1 komentar: