Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2012

Pahlawan Diponegoro





Diponegoro

kau kokoh berdiri
kau tegap melangkah
kau gigih berjuang

kau tiang yang kuat menahan
kau rantai yang kuat mengikat
kau mawar yang mengharumkan

cerminan langkah kaki
anak-cucumu
membangkitkan gerak nisanmu
untuk menembak
untuk bergerak
untuk merangkak
kemudian terjerembab
dalam kubur bangsa kang kabur

Purwokerto, 11 Februari 2012
12:27

Selasa, 03 Januari 2012

TUKANG PECEL


Panggung sepi, hanya ada meja dan sofa cukup besar. Lampu mulai menyala remang-remang. Jimbai dan musik-musik tradisional mengiringi pelan dan syahdu. Empat penari muncul dengan wajah serba putih dan jubah putih menari mengelilingi panggung. Tiba-tiba muncul seorang penjual pecel muda yang menggendong bakul dengan wajah penat namun tetap berusaha ceria. Ia berjalan ke tengah panggung dengan perlahan-lahan. Ia pun berteriak “pecel.. pecel.. lotek nggih onten, pecel pak, Bu, rujak ulek”. Musik berhenti, penari-penari keluar panggung. Penjual pecel berhenti di tengah panggung, tersenyum. Menurunkan dagangannya.
Tukang pecel : waduh Pak’e, onten pecel, rujak ulek, lotek, pilih yang mana? (menunjukkan barang-barang yang dibawanya)
Tukang Pecel : o, pecel. Nggih pak sebentar.. (menyiapkan cobek untuk mengulek bumbu)
Tukang Pecel : niki lomboke berapa? Pedes, sedeng, apa manis kayak saya? Hee
Tukang Pecel : sedeng ajah Pak? Beress,
Tukang Pecel : (mengulek cabai, kacang, dan bumbu lainnya) waduh pak sekarang ini sayuran mahal-mahal, rak terimo nek beli seribu limaratus seiket, kayak sembako wae to
Tukang Pecel : (masih mengulek) iyo Pak, padahal kanggo wong miskin kayak saya ini sewu limangatus iku sudah mahal to ya
Tukang Pecel : bener iku Pak,para pejabat negara wae ra tau makan pecel kayak ngene iki. Padahal pecel buatanku iki paling maknyoss di desa kita ini to, (menoleh ke samping kanan) eeeee Yu, lama gak ketemu rikane
Tukang pecel : (mencacah timun) mau pesen apa? Pecel kayak Bapake iki opo rujak andalanku?
Tukang Pecel : rujak? tapi sek yo, iki ngerampungke pecele Bapake ndisit
Tukang Pecel : (mulai mengadoni bumbu dan menyiapkan sayuran ke dalam piring) Ora Yu, mau iki lagi bahas harga sayuran mahal-mahal sekarang
Tukang Pecel : yo pingine yo kayak  pejabat-pejabat kui sing bisa mabur maring luar negeri, mangan pakanane landha, tapi wong jan wis nasib to Yu Yu..
Tukang Pecel : (mengambil sendok di dalam bakul dan meletakannya di atas piring berisi pecel, memberikan kepada Bapak pembeli) iki pak, pecel mantap pedese sedeng, monggo..
Tukang Pecel : mendoan? Oh nggih, ini Pak, tahu brontak nggih onten, bakwan juga lengkap
Tukang pecel : iya to ya, pecel saiki kudu lengkap. Malah pecelku iki meh dibuat kayak toko swalayan Pak, biar bisa ambil sendiri pembelinya, kita tinggal ambil duitnya, haha
Tukang pecel :ah, mbakyu iki pecelku kan kelas internasional. Justin Beiber juga ketagihan nek nyicipi masakanku.. (kembali menyiapkan bumbu, kali ini bumbu rujak)
Tukang Pecel : pesen rujake piro yu? Loro apa telu?
Tukang pecel : (mengulek kacang) siji wae? Lha Bapake anak-anak ora mbok wenehi?
Tukang Pecel : oh si Bapak doyane pecel to? Mbakyu dahar mriki apa bungkus?
Tukang pecel : sip lah, iki ngancani aku nunggu Mbok Sumi njupuk gorengan.
Tukang pecel : iyo iyo, aku ngerti senenganmu Yu Yu, pedes tanpa timun, haha(tertawa genit)
Tukang pecel : iya kuwi mbok Sumi jarene meh ana keluargane teka dadine pesen gorenganku iki sak baskom.
Tukang pecel : (memotong-motong buah rujak) iya kok yu, bisane aku dadi tukang pecel?? Lucu yayune iki lohhhh
Tukang pecel : yo iki kabeh pancen wis takdirku, rak kaya mbakyu iki makmur uripe, tinggal minta kakanda tercinta kata tivi-tivi saiki
Tukang pecel : iyo iki kabeh pancen gara-gara pak tiriku, pak tiri bajingan! Iki kabeh pak tiriku yang buat ulah. Makku mbok pateni, padahal makku wis sakit-sakitan. Terus aku yo kaya saiki dijodohna gara-gara utange pak tiriku kui. Metu saka SMP terus mbojo sama juragan tapi bini kelima, ditinggal bojo kabur lah.
Tukang pecel : yo Yu, aku wis sabar, tapi pancen pak tiri kecut kayak pakel iki. Pedes kayak lombok iki! (semakin gemas)
Tukang pecel : yen sampeyan ngerti Yu, aku digebuki bapak tiriku, untung siki wonge kabur, minggat! Minggato sing adoh! (emosi)
Tukang pecel : yen sampeyan ngerti Yu, aku iki ganune pinter nang SMP. Tapi aku kudu keluar. Mbiayani adek-adekku cilik
Tukang pecel : nek ditakoni gitu ya aku pengen dadi dokter to Yu, ben bisa ngobati sakite makku, aku juga gak goblok-goblok amat.
Tukang pecel : oh iya aku meh dadi polisi wae ben iso nembak mati pak tiriku sing brengsek!
Tukang pecel : pie gak emosi to Yu, aku saiki banting tulang kanggo anakku siji-sijine karo adik-adikku telu. Ya Gusti kuatna aku..
Tukang pecel : nek iso aku cerita karo pak presiden, aku mau ngomong sekarang. Aku nuntut keadilan. Keadilan urip kanggo makku, keadilan mangan kanggo adik-adikku, keadilan kasih sayang kanggo anakku.
Tukang pecel : aku ra butuh belas kasihan wong liya, aku kepingin presiden ngerti bae saiki akeh wong ora adil. Akeh wong mlarat, miskin, ra due modal lan semangat hidup.
Tukang pecel : salah sapa siki Yu? Kita sebagai wong miskin?
Tukang pecel : apa bajingan-bajingan kayak pak tiriku?
Tukang pecel : hahh, bener kui pak.. salahke wae awakke dhewek
Tukang pecel : aku yo saiki donga wae lah kanggo anakku, adik-adikku ben iso urip ayem, ora adol pecel kayak aku saiki..
Tukang pecel : lha iya iki Yu, wis dadi rujake
Tukang pecel : (menjilat bumbu di piring) oh wis maknyoss Yu
Tukang pecel : halah enak, ora rabies kok. Tambah vitaminku Yu..
Tukang pecel : o iya gari pecele yah Yu, sek yo..
Tukang pecel : oh Bapake sampun, nggih pak pecel setunggal gorengane telu dadine telungewu limangatus pak.
Tukang pecel : eh mbok sumi, iki gorengane, tak tunggu dari tadi, iyo rongpuluh ewu wae
Tukang pecel : eh eh, le’ nduk aja rebutan ajeng tumbas rujak? Mboten pedes nggih? Mengkin nggih, sekedhap..

Penari kembali masuk, tukang pecel bahagia dan terus tersenyum melihat banyak pelanggan yang datang untuk membeli. Penari membawa keranjang bunga dan menaburkannya di panggung. Ada pula penari yang membawa bendera putih dan mengibar-ibarkannya. Musik terus mengiringi dan berhenti pada saat para penari menutup tubuh tukang pecel dengan bendera-bendera putih. Tukang pecel berdiri dan tetap tersenyum. Lampu padam.
Semarang, 26 Desember 2011
Senin 22:46  (galau)

Sabtu, 22 Oktober 2011

ANALISIS TEKS DRAMA NASKAH LAKON REMAJA “TAPLAK MEJA” KARYA HERLINA SYARIFUDIN


A.    STRUKTUR DRAMA
1.      UNSUR INTRINSIK
a.       TEMA
Tema yang diangkat atau diulas oleh Herlina Syarifudin dalam naskah drama ini adalah tentang pendidikan terutama adalah ajaran moral. Atau lebih tepatnya kemanfaatan dan lambang sederhana sebuah taplak meja sebagai pengendali moral dalam kaitannya disini dengan ajaran saat ujian. Dengan lambang sebuah taplak meja kita dapat melihat gambaran sebuah kejujuran siswa-siswi dalam mengerjakan sebuah ujian.

b.      PLOT
Alur atau plot dalam penulisan naskah drama ini termasuk alur linear karena menceritakan secara kronologis urutan-urutan ceritanya.
Adapun struktur alur drama ini adalah sebagai berikut:
1)      Bagian Awal
Memaparkan tokoh-tokoh yang terdiri atas kumpulan anak brokenhome di sebuah rumah singgah dengan pemiliknya yaitu Pakde Kempul. Kemudian Bude Kinanti yang merupakan teman lama Pakde Kempul dan berniat untuk membantu mengajar anak-anak di rumah singgah tersebut.

2)      Bagian Tengah
Pada bagian tengah, sampailah pada ujian anak-anak di Rumah singgah menggunakan taplak meja sebagai media pentingnya. Maka anak-anak berusaha untuk mendapatkan taplak meja sebagai alat untuk ujian. Hingga Bude Kinanti dan Pakde Kempul saling bernostalgia di rumah singgah itu, membicarakan masa lau mereka.
3)      Bagian Akhir
Bude Kinanti dan Pakde Kempul akhirnya menikah. Sementara anak-anak singgah sudah kembali bersama  orang tua mereka. Bahkan mereka memberikan hadiah untuk pasangan pengantin itu gaun pengantin dan maskawin bermotif taplak meja.

c.       TOKOH
Yang sangat berperan penting dalam suatu drama adalah tokoh. Dalam teks drama ini menampilkan tokoh-tokoh antara lain:
1)      Pakde Kempul
Pakde Kempul merupakan tokoh utama dan memiliki peran yang penting dalam drama ini. Ia berperwatakkan baik hati, senang melucu dan bercanda, peramah, rendah hati, serta terkadang tegas.
2)      Bude Kinanti
Bude Kinanti merupakan tokoh tambahan yang membuat drama ini hidup dengan mengeluarkan konflik-konflik sederhana dengan Pakde Kempul, meskipun bukan konflik antara protagonist dan antagonis. Bude Kinanti melakonkan watak yang baik hati, peramah, penyayang, suka humor, dan berjiwa sosial yang tinggi.
3)      Anak-anak rumah singgah
Anak-anak rumah singgah ini merupakan tokoh-tokoh tambahan yang dapat dikatakan pula tokoh utama karena hampir di setiap adegan mereka muncul. Tetapi tokoh sentralnya tetap pada Pakde Kempul yang menjadi pusat penceritaan. Tokoh anak-anak ini memiliki perwatakan yang berbeda-beda, antara lain:
a)      Kemprut
Kemprut memiliki sifat yang senang bercanda, suka kentut, bicara apa adanya (blak-blakan), memiliki ide yang diungkapkan sekenanya.
b)      Wirid
Sifat yang dimiliki Wirid adalah taat pada agama, suka menasehati, paling sopan disbanding anak yang lain.
c)      Genting
Perwatakan yang dimiliki Genting adalah senang bercanda, ia yang paling cerdas disbanding dengan yang lain.
d)     Janthil
Pada drama ini Janthil berperwatakan berperwatakkan lugu, dan terlalu jujur dalam mengungkapkan sesuatu.
e)      Sower
Sower memiliki watak yang senang bercanda dan suka tidur.

f)       Mama Kemprut
Mama Kemprut adalah seorang ibu yang sangat menyayangi Kemprut,anaknya. Ia juga baik hati,terlihat dari cara dia menelpon Kemprut.

d.      DIALOG
Dialog “Taplak Meja” ini sudah memenuhi tuntutan, yakni :
1)      Dialog harus menunjang gerak dan laku tokohnya karena selain terdapat wawancang (dialog) terdapat pula kramagung (teks samping atau petunjuk laku) nya.
2)      Dialog dalam pentas harus lebih tajam daripada dialog sehari-hari. Ketajamannya terlihat atau tampak pada saat menyanyikan lagu-lagu kreatif secara kompak. Dalam kehidupan sehari-hari jarang sekali adanya dialog seperti itu. Selain itu penyampaian potongan-potongan amanat yang disampaikanoleh Bude Kinanti yang disampaikan pada anak-anak yang terlalu formal apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maka dapat dikatakan dialog dalam naskah drama ini sudah sesuai tuntutan dan ketentuan.

e.       LATAR ATAU SETTING
1.      Latar tempat yang dipakai adalah di sebuah rumah singgah milik Pakde Kempul. Lebih rincinya dapat kita lihat antara lain:
Adegan 1 : di kamar tempat tidur anak-anak di rumah singgah.
Adegan2 : teras depan rumah singgah Pakde Kempul.
Adegan 3 : ruang tamu di rumah singgah Pakde Kempul.
Adegan 4 : teras depan rumah singgah Pakde Kempul.
Adegan 5 : rumah singgah Pakde Kempul.
2.      Latar waktu dalam drama ini berbeda-beda, diantaranya:
Adegan 1 : pagi saat anak-anak rumah singgah baru bangun tidur.
Adegan 2 : siang hari.
Adegan 3 : satu tahun berikutnya siang hari.
Adegan 4 : malam hari.
Adegan 5: pagi menjelang siang karena disebutkan orang tua Genting agak telat karena harus mengambil rapor adiknya.

f.       AMANAT
Ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang ialah antara lain:
1)      Kita harus menghargai orang lain terlebih lagi orang yang usianya lebih tua.
2)      Kita tidak boleh menyontek, hendaklah percaya diri kepada diri kita sendiri.
3)      Kita hendaknya berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dan kita tingkatkan.


2.      UNSUR EKSTRINSIK
Unsur ekstrinsik drama ini antara lain:
a.       Latar belakang pengarang
Pengarang adalah seorang penulis yang berpendidikan maka tak heran ia mengangkat dan menyertakan nilai moral dalam kegiatan ujian misalnya menggunakan taplak meja.
b.      Hal-hal yang menarik
Hal yang menarik dari teks drama ini adalah pemilihan judul dan tema yang sangat kreatif, belum pernah terbayangkan untuk membuat cerita ataupun drama dengan objek taplak meja.
c.       Nilai-nilai yang terkandung
Nilai yang berhubungan secara langsung dengan drama tapi berhubungan dengan penulis, misalnya:
1)      Nilai agama
Dalam naskah drama Wirid banyak menggunakan kata-kata islami, sesuai dengan agama Herlina Syarifudin. Lina seorang muslim maka ia tahu kata-kata ungakapan yang bernapaskan islami.
2)      Nilai pendidikan
Secara tidak langsung drama ini mengungkapkan bahwa pendidikan yang ada di kehidupan sehari-hari misalnya dalam ujian berporos pada pengalaman yang dialami oleh penulis. Inti atau amanat dalam naskah drama ini adalah untuk mengajarkan kejujuran kepada anak-anak dalam gambaran jelasnya adalah tampak pada saat anak-anak melaksanakan ujian namun dialasi taplak meja.
3)      Nilai sosial
Karena Herlina memiliki jiwa sosial yang tinggi maka ia mengangkat setting atau latar di sebuah rumah singgah intuk anak-anak brokenhome.

B.     PESAN YANG TERKANDUNG
Secara keseluruhan atau garis besarnya, naskah drama karya Herlina Syarifudin ini adalah mengajarkan tentang perlunya berlaku jujur. Hal ini tampak yakni saat anak-anak rumah singgah melaksanakan ujian. Mereka menggunakan taplak meja agar tidak terjadi kecurangan yang seperti biasa kita jumpai saat ulangan berlangsung. Misalnya dengan membuat contekan di meja tempat ujian.
Pesan kedua yang tersirat dari naskah drama ini adalah agar kita mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah. Kita tidak boleh berpikir pendek dalam memutuskan caranya agar masalah yang kita hadapi dapat terselesaikan dengan baik. Hal ini tampak dari melihat cara anak-anak rumah singah dalam mencari taplak meja yang menjadi persyaratan mengikuti ujian.
Selain kedua pesan diatas juga ada pesan agar kita tidak lari dari masalah terlebih lagi masalah keluarga, seperti yang dialami oleh anak-anak rumah singgah itu. Karena pada dasarnya keluarga adalah bagian yang tidak bisa kita lupakan keberadaannya, ayah dan ibu, meskipun mereka berpisah. Lebih baik kita berlaku dewasa dalam menyikapi masalah yang menimpa kita. Jangan putus asa apalagi lari dari masalah.